Pertemanan Kartini dan Wanita Asal Negeri Orange
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup dengan sendiri. Manusia diciptakan oleh ALLAH SWT sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Di dalam kehidupannya manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Hal ini merupakan salah satu kodrat manusia yang selalu ingin berhubungan dengan manusia lain.
b. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan makalah sebagai berikut:
1. Apa alasan manusia dikatakan sebagai makhluk sosial?
2. Apa saja Karakteristik Manusia sebagai makhluk sosial?
3. Bagaimana Kedudukan Kartini (dalam kasus ini) sebagai makhluk sosial?
4. Bagaimana Kartini Mengembangkan dirinya sebagai makhluk sosial?
c. Tujuan Makalah Makalah ini ditulis agar penulis dan pembaca mampu mempelajari tentang Pertemanan yang dijalin Kartini dan Wanita yang berasal dari Negeri Belanda sebagai contoh bagaimana manusia sebagai makhuluk sosial. Dan memahami arti Manusia sebagai Makhluk sosial dalam kehidupan sehari-hari.
d. Manfaat Makalah
1. Penulis, sebagai wahana penambahan pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang manusia sebagai makhluk sosial bagaimana yang dicontohkan pada kasus pertemanan Kartini dan sahabatnya yang berasal dari Belanda.
2. Pembaca, sebagai media informasi tentang manusia sebagai makhluk sosial.
e. Prosedur Makalah
Prosedur yang dilakukan oleh Penulis yaitu dengan menggunakan metode: Metode Observasi, Metode studi referensi, Metode Perpustakaan, Metode Deskriptif.
BAB II KASUS
Putri Bupati Jepara yang lahir 21 April 1879 ini ingin mendapatkan hak yang sederajat dengan pria dalam soal pendidikan. Kartini muda punya keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan di Belanda. Meski pada akhirnya, ia harus menerima kenyataan hanya bisa memperoleh pendidikan hingga usia 12 tahun, karena harus menikah.
Keinginan Kartini melanjutkan pendidikan tinggi mendapat dukungan dari sahabat pena di Eropa. Salah satunya adalah sahabat perempuan bernama Rosa Abendanon. Tak ayal, pembatalan rencana sekolah Kartini di Belanda membuat sedih para sahabat perempuannya yang juga warga Negeri Kincir Angin tersebut. Sebab, kartini dikenal sebagai sosok perempuan Indonesia berpikiran maju terutama oleh masyarakat Belanda. Rosa Abendanon selalu mengirimkannya buku dan surat kabar serta majalah Eropa yang berisikan pemikirian feminis Eropa. Semasa pingitannya menjelang pernikahannya Kartini memang terus mendidik dirinya sendiri, dan di masa pendidikannya yang sebentar itu Kartini telah fasih berbahasa Belanda sehingga tidak sulit baginya berkomunikasi dengan sahabat penanya itu.
Berbagai pemikiran feminis Eropa yang dibacanya itu memupuk keinginan Kartini muda untuk memperbaiki kondisi perempuan pribumi, yang pada saat itu memiliki status sosial yang sangat rendah.
BAB III PEMBAHASAN
a. Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Secara kodrat, manusia merupakan makhluk monodualistis, artinya selain sebagai makhluk individu, manusia juga berperan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu bekerjasama dengan orang lain sehingga tercipta sebuah kehidupan yang damai. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap sosial merupakan beberapa tindakan menuju kebaikan terhadap sesamanya. Selain itu, Manusia dikatakan sebagai mahkluk sosial karena pada diri manusia ada dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan mencari kawan. Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasarkan kepentingan dan persamaan ciri. Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial menurut KBBI yaitu, “Makhluk sosial adalah manusia yang berhubungan timbal balik dengan manusia lain.”
b. Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Ciri-ciri Manusia Sebagai Mahkluk Sosial:
1. Suka bergaul
2. Suka bekerja sama
3. Hidup berkelompok
4. Memiliki kepedulian terhadap orang lain
5. Tidak bisa hidup sendiri
c. Kedudukan Kartini sebagai Makhluk Sosial Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial. Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum, mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar.
Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organisasi harus saling membantu. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling membutuhkan. Kartini adalah sosok yang dikagumi oleh seluruh wanita Indonesia. Kegagasan dan pendirian dalam cita-citanya membangun negeri tak lepas dari sosok teman-temannya dari negeri Belanda.
Pertemanannya dengan wanita-wanita Eropa membuat pemikirannya akan feminisme dari Eropa lebih terbuka. Karena hal itu Kartini secara tidak langsung telah membuka kesadaran wanita-wanita Indonesia untuk tidak hanya berdiam diri, namun bergerak maju dalam mewujudkan segala impiannya. Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu.
d. Pengembangan yang Dilakukan Tokoh Kartini Sebagai Makhluk Sosial
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi.
Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu.
Keinginan Kartini melanjutkan pendidikan tinggi mendapat dukungan dari sahabat pena di Eropa. Tak ayal, pembatalan rencana sekolah Kartini di Belanda membuat sedih para sahabat perempuannya yang juga warga Negeri Orange tersebut. Sebab, kartini dikenal sebagai sosok perempuan Indonesia berpikiran maju terutama oleh masyarakat Belanda.
Namun, gejolak perjuangan Kartini untuk kaumnya tidak berhenti hanya karena pernikahan. Sebaliknya, ia menuangkan pemikirannya melalui sejumlah tulisan yang dimuat dalam majalah perempuan di Belanda, De Hollandsche Lelie. Korespondesi yang dikirimkan Kartini pada teman-teman perempuannya di Eropa juga dibukukan oleh Jacques Henrij Abendanon yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku berjudul Door Duisternis tot Licht, atau Dari Kegelapan Menuju Cahaya, pada 1922 diterbitkan menjadi buku kumpulan surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, oleh Balai Pustaka.
BAB IV KESIMPULAN
a. Kesimpulan Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dalam kasus ini, Tokoh Kartini adalah contoh bagaimana manusia bersosialisasi bahkan kepada masyarakat diluar negerinya. Dengan bersosialisasi, Kartini mendapatkan pemikiran feminisme yang saat itu berkembang di Negara Eropa. Pemikiran feminisme itulah yang Beliau tularkan kepada masyarakat wanita Indonesia. Kesetaraan wanita saat ini tak lepas dari peran Rosa Abendanon, sosok sahabat Kartini dari Negeri Orange yang giat memberi buku dan surat kabar serta majalah Eropa yang berisikan pemikirian feminis Eropa hingga membuka pemikiran Kartini akan hal feminisme yang berkembang di Indonesia.
Kartini mengajarkan bagaimana sebuah sosialisasi yang terjadi sangat baik dapat memberikan pemikiran yang luas hingga mengubah keadaan sosial wanita Indonesia yang saat itu sangat lemah.
BAB V REFERENSI
Referensi
Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, oleh Balai Pustaka 1922
Manusia Sebagai Makhluk sosial dalam Arief Wibowo,2011
Makalah Manusia Sebagai Makhluk Sosial dalam Eka Sario,2013
Friendship Between Kartini and Rosa Abendanon dalam Nuzy Radinas,2013
Persahabatan RA Kartini dengan Perempuan Belanda Buka "Pintu" Ruang Emansipasi dalam Wardah Fajri,2014
Komentar
Posting Komentar