🎬 The Time of Cinema 🎬


Dunia hiburan adalah dunia yang paling sering dinikmati, dengan hiburan manusia mengeluarkan hasrat kebahagianya dalam bidang-bidang yang paling dikaguminya. Musik, Lukisan, dan Sinema adalah salah satu objek dari dunia hiburan. Objek- objek itu tidak datang begitu saja, melainkan melalui manusia yang menuangkan pemikiran-pemikiran kreatifnya kedalam hobi yang ditekuninya. Begitu pula dengan sinema, sebuah sinema tercipta dari campur tangan seorang Sutradara, Produser, aktor dan pemeran penting lainnya yang menghasilkan sebuah tampilan warna, gerak dan suara yang dapat dinikmati oleh semua orang.

🎬 Tentang Sinema

Dilansir dari artikel yang bersumber dari Wikipedia Sinema(film) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), yang pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.

🎬 Sejarah Sinema

Film Pertama di Dunia

Film pertama di dunia dirilis pada tahun 1903. Film tersebut diambil dari kisah nyata mengenai perampokan kereta besar-besaran yang terjadi di Amerika Serikat.

Film 'The Great Train Robbery' dibuat berdasarkan kisah perampokan kereta api pengangkut emas di tahun 1896. jalan ceritanya ini ditulis oleh Thomas A. Edison. dan diprodu  seri oleh Edwin S. Porter.

Dalam pencatatan sejarah perfilman, film ini adalah film bergerak pertama yang dibuat. Walaupun masih hitam putih dan dibuat tanpa suara (film bisu. red), namun film berdurasi 12 menit ini bisa menjadi inspirasi bagi pembuatan film-film berikutnya.

Film Bisu

Sebelumnya film (sinema) telah diproduksi dengan tampilan warna dan gerak tanpa suara yang biasa yang sebut Film Bisu. Dalam Film ini, dialog disampaikan melalui gerak isyarat, pantomim, dan telop antarjudul. Ide menggabungkan film dengan rekaman suara sebenarnya sudah sama tuanya dengan penciptaan gambar hidup. 

Film Bersuara

Film bersuara dapat dinikmati setelah disempurnakannya tabung penguat Audion dan diperkenalkannya sistem Vitaphone. Film tipe ini mulai di kagumi setelah Kesuksesan film bersuara The Jazz Singer dari Warner Bros. pada tahun 1927 menyebabkan studio-studio besar menyadari bahwa agar mampu bersaing, mereka membutuhkan teknologi suara canggih. Era film bersuara dimulai setelah studio-studio besar setuju bekerja sama dengan Western Electric untuk menciptakan sistem suara pada tahun 1928.
Setelah adanya film bersuara, film bisu terus diproduksi, tetapi makin jarang. Charlie Chaplin membuat dua film bisu pada tahun 1930-an, dan mengurangi produksi filmnya setelah film bersuara menjadi lumrah. Media film bisu terus digunakan Charlie Chaplin hingga tahun 1936 dengan dirilisnya Modern Times. Setelah itu, film bisu untuk keperluan praktis, telah menjadi bentuk seni yang ditinggalkan orang.

Film (Sinema) Digital
Merujuk pada penggunaan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak. Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keraspiringan optik atau satelit serta ditayangkan menggunakan proyektor digital alih-alih proyektor film konvensional.
Kelebihan dari Sinema Digital ini, yaitu:
💎  Sinema digital berbeda dari HDTV atau televisi high definition.
💎  Sinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standar HDTV, aspek rasio atau peringkat bingkai. 
💎  Proyektor digital yang memiliki resolusi 2K mulai disebarkan pada tahun 2005, dan sejak tahun 2006 jangkauannya telah diakselerasi.
💎  Sinema digital dapat dibuat dengan media video yang untuk penayangannya dilakukan transfer dari format 35 milimeter (mm) ke format high definition (HD). Proses transfer ke format HD melalui proses cetak yang disebut dengan proses blow up.
💎  Setelah menjadi format HD, penayangan film dilakukan dari satu tempat saja, dan dioperasikan ke bioskop lain dengan menggunakan satelit, sehingga tidak perlu dilakukan salinan film. Contohnya, dari satu bioskop di Jakartafilm dapat dioperasikan atau diputar ke bioskop-bioskop di daerah melalui satelit.


🎬 Sinema Sebelum dan Disaat Era Digital

Semakin pesatnya kemajuan dalam bidang teknologi, kehadiran dunia digital tidak dapat ditolak oleh masyarakat umum yang berada dimuka bumi ini. Dunia digital hadir sebagai pelengkap dan pembantu pekerjaan manusia dibidangnya masing-masing.
Sebelum ditemukannya kamera digital, para filmmaker menggunakan kamera seluloid sebagai medium untuk memvisualisasikan skenarionya.

Kamera Digital

Kemunculan kamera digital di akhir tahun 1980-an yang digagas oleh Sony lewat perlengkapan kamera Sony HDVS-nya (awalnya ditujukan untuk keperluan broadcast televisi) membuat filmmaker mempunyai pilihan untuk mengambil gambar dengan biaya yang lebih murah. Meski begitu, para pembuat film lebih banyak setia dengan kamera film karena gambar yang dihasilkan jauh lebih baik. Seiring perkembangan zaman, teknologi digital semakin maju dan kini kualitas kamera digital bahkan dapat menyamai kamera film seluloid. Hal ini berimbas dengan banyaknya filmmaker dunia yang memilih untuk menggunakan kamera digital dibandingkan seluloid, tak terkecuali Hollywood.

Film Pertama Digital

Penggunaan kamera digital dalam industri film Hollywood dipelopori oleh George Lucas yang mengembangkan kamera Sony HDW-F900 yang digunakan pada Once Upon Time in Mexico (2001). Film garapan Robert Rodriguez tersebut dikenal sebagai film pertama yang seluruh gambarnya diambil dengan kamera digital berformat 24 fps.

Penghargaan Pertama pada Film Digital

Satu tahun kemudian, Lucas menggunakan kamera yang sama untuk filmnya, Star Wars Episode II: Attack of the Clones. Tahun 2009 bisa dikatakan sebagai momen penting bagi perkembangan kamera digital di industri film dunia. Pada tahun tersebut, Slumdog Millionaire menjadi film pertama berformat digital yang mendapatkan penghargaan Best Cinematography di ajang bergengsi Academy Awards, disusul oleh dirilisnya Avatar yang hingga saat ini menjadi film berpendapatan tertinggi sepanjang sejarah.

Dampak Digital Terhadap Sistem Sinema

Kesuksesan film-film digital tersebut berimbas para sistem sinema di dunia. Banyak bioskop yang akhirnya menggunakan proyektor digital dan meninggalkan proyektor film konvensional. Proyektor digital yang dikenal dengan nama DLP (Digital Light Processing) sanggup menayangkan film digital dengan resolusi 2K (2048×1080 atau 2,2 megapixels) dan 4K (4096×21960 atau 8.8 megapixels). Sistem pendistribusian film pun tidak lagi memakai reel seluloid, namun menggunakan file digital DCP (Digital Cinema Package) berbentuk hard-drive yang nantinya dikopi ke dalam server internal bioskop yang akan menayangkan filmnya.


🎬 Referensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Sinema
https://id.wikipedia.org/wiki/Film_bisu
https://hot.detik.com/did-you-know/992946/film-pertama-di-dunia
https://id.wikipedia.org/wiki/Sinema_digital
http://cinemags.id/perkembangan-era-digital-dalam-dunia-perfilman/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bisnis Informatika

Permasalahan Budaya di Indonesia